oleh

Purworejo dan BMKG Lakukan Mitigasi Awal

PUWOREJO – Sebagai wilayah yang terletak di pesisir Samudera Indonesia, Purworejo menyiapkan diri untuk menghadapi potensi bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Bupati Purworejo melalui Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah setempat, Pram Prasetya Achmad, mengungkapkan beberapa langkah mitigasi bencana tsunami.

“Antara lain menyusun peta resiko dan bahaya tsunami, memasang alat EWS tsunami, mempersiapkan jalur evakuasi mulai dari peta, rambu hingga pengerasan jalan dan sebagainya,” beber Pram pada acara Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami, di Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, beberapa hari lalu.

Baca Juga  Jarak Tempuh Layanan Mikrotrans JAK 17 dan JAK 19 diperpanjang

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwi Korita Karnawati mengungkapkan, pihaknya juga melakukan upaya mitigasi bencana di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.

“Kita juga melakukan susur jalur evakuasi dari mulai bibir pantai sampai titik assembly point, dengan tujuan untuk mengetahui berapa waktu tempuh perjalanan dari pantai hingga titik evakuasi,” katanya, dilansir banten.siberindo.co.

Berdasarkan kajian BMKG, imbuhnya, bencana tsunami yang terjadi di Samudera Indonesia kemungkinan sampai ke daratan Jawa Tengah dalam jangka waktu 39 menit setelah terjadinya gempa. Namun, pihaknya mengeluarkan pengumuman bencana pada lima menit setelah gempa.

Baca Juga  Herman Deru Apresiasi Perhatian PT. Bukit Asam Tbk

Harapannya, masyarakat memiliki waktu selama 34 menit untuk mengevakuasi diri sebelum tsunami tiba.

Dwikota menjelaskan, peta tata wilayah pesisir Purworejo telah mengalami perubahan sejak 2018. Jumlah bangunan dan pemukiman penduduk semakin banyak dan semakin dekat garis pantai. Hal itu meningkatkan potensi risiko timbulnya korban jiwa apabila bencana tsunami datang.

“Tujuan kita bukan untuk menakut-nakuti ataupun membuat resah, tapi kita harus sampaikan apa adanya, agar masyarakat dapat lebih waspada. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat dapat mengevakuasi diri secara mandiri jika sewaktu waktu ada bencana tsunami,” pungkasnya.

Baca Juga  Gunung Semeru Level II Waspada, Masyarakat DiHimbau Jauhi Area Terdampak Awan Panas

Lebih lanjut, pada awal 2021, BMKG telah menyerahkan peralatan mitigasi bencana kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo, berupa peta rawan tsunami level kecamatan dan kredensial aplikasi sirine tsunami mobile SIRITA. BMKG juga telah memasang Warning Receiver System New Generation (WRSNG) di Kantor BPBD stempat. Peralatan tersebut merupakan akan informasi mengenai saat terjadi gempa bumi (real time). (*/cr1)

News Feed